Kita Berharga di Mata Tuhan
Suatu pagi di sebuah sekolah
Katolik, Eliza duduk termenung di taman sekolah. Ia terlihat sedih setelah
meraih nilai buruk dalam ujian matematika. Teman-temannya asyik bermain
bersama, namun Eliza merasa sendirian. Dalam hatinya, ia merasa kurang cakap
dibanding teman-teman lain. "Apakah gunanya aku di sini? Aku tak pernah
merasa cukup baik," bisiknya lesu.
Dalam kegamangannya, Fr. Adam,
seorang guru agama yang bijak, menyadari kegelisahan Eliza dari jauh lalu
mendekati dirinya. Fr. Adam duduk di sebelah Eliza sambil tersenyum lemah
lembut. "Ada apa, Eliza?" tanyanya lembut. Eliza menceritakan
kegalauannya soal nilai dan keraguan akan arti dirinya. Fr. Adam mengangguk
prihatin.
"Eliza, apakah kamu tahu
kisah Yesus tentang anak-anak kecil dalam Injil Matius 18:10? Yesus berkata,
'Janganlah kamu merendahkan salah seorang anak-anak kecil ini, karena Aku
berkata kepadamu, malaikat-malaikat mereka di sorga senantiasa memandang wajah
Bapa di sorga.' Setiap insan, termasuk kamu, begitu berharga di mata Tuhan, tak
peduli prestasi atau kegagalan apapun."
Mendengar perkataan itu, Eliza
terdiam sejenak. "Bagaimana aku bisa yakin kalau diriku berharga, jika aku
terus merasa gagal?" tanya Fr. Adam sambil tersenyum lembut. Ia
mengeluarkan kaca kecil dari sakunya. "Lihatlah dirimu, Eliza. Bukan dari
nilaimu atau prestasimu, tetapi dirimu sesungguhnya. Tuhan tak hanya melihat
prestasi kita, tetapi hati, usaha, dan niat baik yang kita miliki. Seperti
Yesus memeluk anak-anak, Dia pun memelukmu dengan kasih tak terbatas."
Eliza merasa suasana hatinya
mulai tenang. Ia ingat bagaimana ia selalu membantu teman yang kesulitan dengan
tugas, atau menemani sahabat sedih. Meski bukan siswa terpandai, banyak
kebaikan yang telah dilakukannya. "Mungkin selama ini aku terlalu fokus
pada kelemahanku dan lupa bahwa Tuhan mencintaiku apa adanya," pikir
Eliza.
Dengan senyuman baru di bibirnya,
Eliza berkata, "Terima kasih, Fr. Adam. Sekarang aku mengerti. Tuhan
melihatku sebagai ciptaan-Nya yang berharga, bukan dari prestasi, tetapi siapa
aku sesungguhnya. Aku akan berusaha mengingat hal ini ketika meragukan
diri." Fr. Adam menepuk pundaknya bangga. "Itulah semangat sejati,
Eliza. Ingat, di mata Tuhan, setiap orang memiliki tempat istimewa. Kita
berharga bukan dari kedudukan di dunia, melainkan karena kita adalah
anak-anak-Nya."
Sejak itu, Eliza tak lagi
meragukan dirinya. Ia tahu bahwa dirinya berharga di mata Tuhan jauh di atas
nilai akademik semata. Ia mulai percaya diri, senang membantu teman, dan terus
berusaha sebaik mungkin. Ia tahu, apapun yang terjadi, ia akan selalu berharga
di mata Tuhan, sama seperti kita semua.
"Tuhan
melihat nilai hatimu, bukan hanya prestasimu. Di mata-Nya, setiap usaha dan
niat baikmu adalah berharga."
Refleksi
Seorang pemenang selalu
melakukan refleksi diri untuk segera mendapatkan pembelajaran
yang maksimal. Luangkan waktu dan tuliskan apa yang kamu pelajari.
1. Pembelajaran
terbesar saya hari ini adalah…
2. Formula
yang paling berkesan untuk saya adalah…
3. Hari
ini saya sangat bersyukur karena…




