Keseimbangan Antara Tanggung Jawab Jasmani dan Kesadaran Rohani
Pagi hari di sebuah sekolah
Katolik, siswa-siswi sibuk dengan aktivitas masing-masing. Kezia, siswi yang rajin,
terburu-buru ke perpustakaan untuk menyelesaikan tugas matematika yang
menumpuk. Di tengah jalan, ia berpapasan dengan Nina yang baru saja selesai
berdoa di kapel kecil sekolah. "Kenapa sih kamu selalu ke kapel? Tugas
sekolah kan banyak, belum lagi ulangan besok!" keluh Kezia sambil menghela
napas panjang. Nina hanya tersenyum lembut, "Terkadang kita perlu
menyempatkan diri untuk Tuhan, Kezia. Rasanya tenang sekali setelah berdoa."
Kisah Kezia dan Nina mirip dengan
cerita di Injil Lukas tentang Maria dan Marta. Marta sibuk melayani tamu,
sementara Maria duduk mendengarkan ajaran Yesus. Marta merasa kesal tetapi
Yesus berpesan, "Maria telah memilih bagian yang paling berharga."
Melalui kisah ini, Yesus mengajarkan tentang pentingnya keseimbangan antara
aktifitas duniawi dan keterbukaan spiritual.
Kezia mulai berpikir mendalam
akan nasihat Nina. Meski ia menyadari tanggung jawab sekolah penting, tetapi
hatinya kerap resah. Suatu sore seusai sekolah, Kezia memutuskan menyempatkan
diri ke kapel bersama Nina. Di sana dalam kedamaian, ia merasakan ketenangan
yang telah lama dirindukan. Ia paham bahwa ada hal lebih mendalam dari sekadar selesain
tugas: menjalin relasi dengan Tuhan dalam setiap langkah di kehidupan
sehari-hari.
Santo Benediktus dari Nursia yang
terkenal dengan moto “Ora et Labora” (Berdoa dan Bekerja), memberi teladan kuat
akan keseimbangan ini. Ia mengajarkan bahwa bekerja tanpa doa akan mengeringkan
jiwa, begitu pula doa tanpa bekerja akan menghilangkan hasil. Hidup harus
selaras antara usaha lahiriah dan batiniah, antara kerja keras dan doa, agar
tidak hanya bermanfaat bagi jasmani namun juga rohani.
Kini Kezia tidak hanya fokus pada
tugas sekolah, tetapi juga memberi ruang untuk Tuhan dalam hati. Ia menyadari
bahwa saat meluangkan waktu untuk berdoa dan merenung, tugas-tugas menjadi
lebih ringan dan pikiran lebih tenang. Pada akhirnya Kezia memahami bahwa
keseimbangan antara tanggung jawab dan kesadaran spiritual bukanlah memilih
salah satu, tetapi menjalankan keduanya dengan penuh kesadaran. Dengan demikian
ia dapat meraih kesuksesan tidak saja di sekolah namun juga dalam imannya.
“Keseimbangan
antara tanggung jawab jasmani dan kesadaran rohani bukanlah memilih salah satu,
tetapi menjalankan keduanya dengan penuh kesadaran”
1.
Mengapa Kezia awalnya merasa terburu-buru dan
tidak memahami kebiasaan Nina berdoa di kapel?
2. Bagaimana Kezia akhirnya menemukan ketenangan
batin dan menyadari pentingnya meluangkan waktu untuk berdoa?
3. Apakah Anda setuju bahwa meluangkan waktu untuk
refleksi spiritual dapat membantu mengurangi stres dalam menjalankan tugas
sehari-hari? Mengapa?




