Kisah Jesline dan Kuasa Pengampunan
Pada suatu pagi yang cerah di sebuah
SMA Katolik, Jesline, siswi kelas XII, duduk termenung di bangku taman sekolah.
Raut wajahnya tampak muram. Teman-temannya menyadari ada yang mengganggu
pikirannya, namun Jesline enggan bercerita. Ketika istirahat tiba, Ibu Sinta,
wali kelasnya yang bijak, menghampirinya. "Ada apa, Nak? Ibu lihat kamu
kurang semangat hari ini," tanya Ibu Sinta lemah lembut.
Jesline menunduk, lalu berkata
pelan, "Bu, saya bertengkar dengan sahabat dekat saya. Saya tak bermaksud
menyakitinya, tapi sekarang dia marah dan menjauh. Saya merasa bersalah, tapi
saya tak tahu cara memperbaikinya." Ibu Sinta tersenyum lembut, "Jesline,
apa kamu pernah dengar tentang doa yang diajarkan Yesus kepada
murid-murid-Nya?" Ibu Sinta pun mengajak Jesline mengingat Injil Lukas
11:1-4, ketika para murid meminta Yesus mengajari mereka berdoa, lalu Dia
ajarkan Doa Bapa Kami.
"Jesline, dalam Doa Bapa
Kami ada bagian penting: 'Berilahlah kami setiap hari rezeki kami dan ampunilah
dosa-dosa kami, sebab kami pun mengampuni orang yang bersalah kepada
kami'," lanjut Ibu Sinta. "Doa ini mengajarkan dua hal utama:
kebutuhan sehari-hari dan pentingnya memaafkan dan meminta maaf. Kita tak hanya
butuh makanan lahiriah, tapi juga rohani--pengampunan dari Tuhan dan mengampuni
sesama."
Jesline termenung sejenak.
"Bu, apa Tuhan akan memaafkan saya meski saya sudah bersalah?" Ibu
Sinta tersenyum lembut, "Tentu, Nak. Tuhan senantiasa siap memaafkan
anak-anak-Nya yang datang dengan hati tulus. Santo Yohanes Maria Vianney pernah
berkata, 'Allah selalu memberi lebih dari yang kita minta, asal kita datang
kepada-Nya dengan iman dan rendah hati.' Tugas kita adalah berani minta maaf
dan memaafkan yang bersalah kepada kita."
Setelah obrolan itu, Jesline pun
memberanikan diri menemui sahabatnya dan meminta maaf. Dengan hati lapang, ia
juga memaafkannya. Akhirnya hubungan mereka pulih, bahkan menjadi lebih erat. Jesline
belajar bahwa selain butuh makanan lahir, kita juga butuh makanan rohani berupa
pengampunan. Bila kita mampu memaafkan dan meminta maaf, kita semakin dekat
dengan Tuhan dan kuat dalam iman serta karakter.
Semoga kisah Jesline ini
menginspirasi kita semua untuk selalu ingat akan pentingnya memaafkan dan
meminta maaf dalam kehidupan sehari-hari. Tuhan tak cuma menopang tubuh kita
dengan rezeki, tapi juga jiwa kita dengan kasih dan ampunan-Nya.
"Tuhan
senantiasa memberi lebih dari yang kita minta, asal kita datang dengan hati
tulus. Pengampunan adalah jalan menuju kedamaian dan hubungan yang lebih erat
dengan sesama."
Refleksi
- Mengapa Jesline merasa bersalah dan apa yang
menyebabkan dia murung?
- Bagaimana hubungan Jesline dengan sahabatnya setelah
ia meminta maaf?
- Pernahkah Anda mengalami situasi serupa dengan
Jesline? Bagaimana perasaan Anda setelah memaafkan atau meminta maaf?




