Pengampunan Atas Kesalahan
Suatu
hari di sekolah, seorang murid bernama Joshua mengalami dilema. Saat istirahat,
teman-temannya mulai bercanda tentang teman sekelasnya yang dianggap
"berbeda". Mereka mulai mengejek, dan salah satu dari mereka bertanya
kepada Joshua, "Kamu setuju kan kalau dia aneh?". Dalam sekejap, hati
Joshua terasa terbelah. Ia mengingat ajaran agama bahwa kita harus saling
mencintai dan menghargai sesama. Namun, di bawah tekanan teman-temannya, Joshua
hanya diam dan tersenyum kecil, seolah ikut menyetujui ejekan tersebut. Saat
malam hari, rasa bersalah mulai menghantuinya.
Keesokan
harinya, saat pelajaran agama, Pak Andre, guru mereka membahas kisah Petrus
yang menyangkal Yesus. Pak Andre menjelaskan pentingnya kita tetap memegang
teguh iman kita di hadapan orang lain, seperti tertulis dalam Injil. Joshua
teringat kejadian sebelumnya, dimana seharusnya ia membela temannya dan tidak
ikut dalam ejekan. Ia merasa telah mengingkari ajaran kasih yang diajarkan
Yesus.
Dalam
pemikirannya, Joshua teringat kisah Petrus yang pernah menyangkal Yesus tiga
kali. Namun, Yesus dengan kasih-Nya yang besar memaafkan Petrus dan memberinya
kesempatan untuk kembali. Sama seperti Petrus, Joshua menyadari ia membutuhkan
pengampunan dan kekuatan untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Ia berdoa
memohon petunjuk.
Setelah
berpikir, Joshua memutuskan untuk minta maaf pada temannya dan berjanji tidak
diam jika ada ketidakadilan. Ia juga bercerita pada Pak Ande, yang menyarankan Joshua
selalu berdoa untuk mendapat petunjuk dari Tuhan, terutama saat di hadapkan
pada tekanan. Pak Andre mengingatkan Joshua pada kisah Santa Maria Goretti yang
mengajarkan pentingnya memaafkan bahkan dalam situasi sulit.
Dari
pengalaman ini, Joshua belajar bahwa semua orang bisa salah, tapi yang
terpenting adalah bagaimana kita bangkit, meminta pengampunan, dan kembali ke
jalan kasih. Melalui kejadian sederhana ini, kita dituntun bahwa pengampunan
selalu tersedia bagi kita, seperti kasih Yesus kepada Petrus dan siapa saja
yang datang dengan tulus.
"Pintu pengampunan akan senantiasa
terbuka lebar bagi mereka yang dengan tulus mengakui kesalahan dan berjanji
untuk menjadi lebih baik. Pengampunan adalah anugerah terindah yang dapat kita
berikan kepada sesama."
Refleksi
- Mengapa
Joshua merasa bersalah setelah kejadian saat istirahat bersama
teman-temannya?
- Apa yang
disampaikan Pak Andre dalam pelajaran agama yang membuat Joshua teringat
akan kesalahannya?
- Bagaimana
Joshua menunjukkan rasa penyesalan dan keinginannya untuk memperbaiki
kesalahan yang telah ia buat?
- Bagaimana
kamu akan bersikap jika berada di posisi Joshua saat teman-temanmu mulai
mengejek orang lain?




