Hidup Tak Semata Untuk Diri
Suatu
hari di sekolah, Dinda dan Ari sedang berbincang di kantin seusai pelajaran.
Mereka membahas soal acara amal yang akan diselenggarakan sekolah minggu depan.
"Mengapa kita harus turut serta dalam kegiatan itu ya?" tanyak Ari,
yang masih meragukan untuk ikut dalam kegiatan amal itu. "Toh, kita punya
urusan masing-masing, tugas banyak, waktu liburan pun terbatas,"
lanjutnya. Dinda diam sejenak, lantas teringat ajaran di pelajaran agama pagi
itu tentang perumpamaan orang kaya dalam
Injil Lukas 12:13-21. "Kita lupa mungkin, Ari, hidup tak cuma untuk diri
sendiri," jawabnya bijak.
Ucap
Dinda mengingat cerita Injil pagi itu,
di mana seorang pria kaya menimbun harta untuk diri semata tanpa memikirkan yang
lain. Tetapi Tuhan memperingatkan pria itu bahwa hidupnya bisa saja berakhir
tanpa pernah ia tahu, dan semua koleksi tak akan bermakna jika hanya untuk
dirinya sendiri. "Bukankah kita juga begitu? Kita sibuk dengan diri, lupa bahwa
Tuhan memanggil kita untuk berbagi, dan peduli kepada sesama," lanjut
Dinda dengan lembut.
Di
sekolah, banyak contoh nyata soal siswa saling membantu. Seperti Dandy, meski
sibuk belajar, masih meluangkan waktu mengajari teman yang kesusahan memahami
pelajaran matematika. Dandy mengingatkan kita pada sosok Santo Fransiskus dari
Assisi, yang berkata, "Lebih bahagia memberi dari pada menerima."
Santo Fransiskus mengaajarkan bahwa bahagia itu sesungguhnya ada pada memberi
diri untuk bermanfaat bagi sesama, bukan cuma untuk diri sendiri.
Dalam
semangat itu, Dinda dan Ari memutuskan untuk ikut serta dalam acara amal
sekolah. Mereka mulai menyadari bahwa ketika membantu orang, mereka sedang
menjalankan panggilan Tuhan. "Kita tak pernah tahu kapan hidup ini
berakhir, seperti diingatkan dalam Injil tadi. Tapi yang bisa kita lakukan adalah
memastikan bahwa kita menggunakan waktu untuk melakukan hal yang bermanfaat bagi
sesama," kata Ari sambil tersenyum.
Akhirnya,
lewat tindakan kecil tetapi bermakna ini, para siswa belajar bahwa hidup yang berharga
adalah hidup yang bisa dibagikan. Seperti kata-kata Santa Theresia dari
Kalkuta, "Bukan seberapa besar yang kita lakukan,
tapi seberapa dalam cinta yang kita berikan dalam melakukan sesuatu."
Mereka menemukan bahwa hidup tak hanya tentang mengumpulkan untuk diri sendiri,
melainkan memberi dengan sepenuh hati untuk kebersamaan, sebagaimana diajarkan
Tuhan Yesus.
"Bukan seberapa banyak yang kita lakukan,
tapi seberapa besar cinta yang kita berikan dalam melakukan sesuatu."
- Santa
Theresa dari Kalkuta –
Refleksi
1.
Apa yang dibahas
Dinda dan Ari saat mereka berbincang di kantin?
2. Siapa sosok dalam
Injil Lukas 12:13-21 yang menjadi contoh tentang orang yang hidup hanya untuk
dirinya sendiri?
3.
Bagaimana Dandy
menunjukkan sikap peduli terhadap teman-temannya di sekolah?
4. Bagaimana kamu
bisa menerapkan ajaran 'hidup tak hanya untuk diri sendiri' di sekolah atau di
lingkungan sekitarmu?




