Kisah Perjalanan Mario Mengemban Keberanian Berpendapat

Kisah Perjalanan Mario Mengemban Keberanian Berpendapat

Pada suatu pagi di sebuah sekolah Katolik, Mario, seorang siswa pendiam, dirundung keraguan besar saat harus berbicara di depan kelas. Ia takut dianggap salah atau bahkan diejek teman-temannya. Pada saat itu pelajaran sedang membahas tentang "mengemban kebenaran", dan Mario merasa terdorong untuk menyuarakan pendapatnya. Namun, ada sesuatu yang mengganjal di hati dan pikirannya, yakni perasaan takut dan malu. Di sisi lain, ia teringat kisah Bartimeus dalam Injil Markus yang tetap berseru memanggil Yesus meski dilarang.

Ketika pelajaran berlangsung, Mario memutuskan untuk angkat bicara. Meski keraguan masih menyelimuti batinnya, ia ingat keberanian Bartimeus yang tak menyerah dalam memperjuangkan hak untuk didengar. "Bu Guru, menurut saya, saat melihat yang salah kita perlu berani berpendapat," ujarnya dengan tangan bergetar. Saat itu Mario menyadari bahwa keberanian kecilnya bisa berarti besar, sama seperti Bartimeus yang akhirnya diakui dan disembuhkan karena imannya. Gurunya tersenyum memberi semangat.

Sepanjang perjalanan pulang, Mario mengingat pula kisah Yohanes Pembaptis yang berani menyuarakan kebenaran meski banyak yang menentang. Yohanes tidak gentar menyerukan pertobatan dan keadilan meski nyawa taruhannya. Keberanian Santo Yohanes Pembaptis menginspirasi Mario untuk berani berpendapat tiap kali melihat ketidakadilan, baik di sekolah maupun luar sekolah. Baginya, berpendapat bukan lagi soal mengalahkan takut, tapi menyuarakan iman dan kebenaran seperti teladan para santo.

Hari demi hari, Mario semakin nyaman mengutarakan pendapatnya. Ia menjadi teman yang mendukung dan sering membantu teman-temannya yang kesulitan bersuara di kelompok. Ia paham bahwa berani berpendapat merupakan bentuk tanggung jawab yang dianugerahkan Tuhan kepada semua orang, terutama untuk kebaikan bersama. Mario mengerti panggilannya bukan sekadar berbicara, tetapi berbicara untuk kebenaran dan iman, sama seperti Bartimeus dan Yohanes Pembaptis.

Bagi Mario beserta teman-temannya, kisah ini menjadi pengingat bahwa setiap orang dipanggil untuk berpendapat dan bertindak sesuai ajaran iman, meski seringkali dihadapkan pada takut dan rintangan. Keberanian berpendapat bukanlah sesuatu yang datang begitu saja, melainkan anugerah yang terus dilatih agar menjadi saksi Kristus di tengah keseharian. "Setiap pendapat kita, sekecil apapun, bisa menjadi terang di tengah dunia yang membutuhkan kebenaran," ujar Mario kepada teman-temannya.

"Setiap pendapat kita, sekecil apapun, bisa menjadi terang di tengah dunia yang membutuhkan kebenaran,"

Pertanyaan Refleksi

  1. Mengapa Mario awalnya merasa ragu untuk berbicara di depan kelas?
  2. Kisah siapa yang menginspirasi Mario untuk memberanikan diri berbicara, dan bagaimana kisah itu memengaruhinya?
  3. Apa yang Mario pelajari tentang keberanian berpendapat dari kisah Santo Yohanes Pembaptis?
  4. Pernahkah kamu merasa takut untuk menyuarakan pendapat? Apa yang membuatmu ragu, dan bagaimana kamu bisa mengatasi rasa takut tersebut?