Tuhan Menerima Kita Apa Adanya

Tuhan Menerima Kita Apa Adanya

Pada suatu pagi di sekolah, Lesly duduk sendiri di bangku taman sambil memandang buku di tangannya. Hari itu, perasaan Lesly sedikit cemas setelah menerima hasil ulangan yang tidak sesuai harapan. Ketika guru menyampaikan hasilnya, ia merasa seperti gagal dan kurang dihargai, meski ia sudah berusaha keras. Teman Lesly, Rafael, yang lewat kemudian melihat raut wajah Lesly yang murung. Tanpa ragu, Rafael mendekatinya dan berkata, “Janganlah khawatir, Lesly. Mungkin hari ini tidak baik, namun Tuhan selalu siap menerima kita apa adanya.” Perkataan Rafael membuat Lesly tersentuh, meski ia masih bertanya-tanya bagaimana Tuhan bisa menerima dirinya dengan segala kekurangannya.

Rafael melanjutkan, “Aku pernah membaca bahwa Yesus berkata dalam Injil Yohanes 6:37-40, bahwa siapa pun yang datang kepada-Nya, tidak akan ditolak. Yesus menyambut kita dengan tangan terbuka, meskipun kita memiliki banyak kekurangan.” Lesly merasa sedikit tenteram mendengar hal itu. Mereka kemudian berjalan bersama ke kelas, dan Rafael pun menceritakan kisah Santo Petrus, seorang nelayan yang semula penuh dengan kelemahan. Meskipun pernah menyangkal Yesus tiga kali, Petrus tetap diterima kembali dengan kasih yang luar biasa. “Bahkan orang suci sekalipun punya kekurangan,” ujar Rafael, “namun mereka tetap diterima dan diberi kesempatan oleh Tuhan untuk bertumbuh.”

Keesokan harinya, saat pelajaran agama, guru mereka menyampaikan bahwa Tuhan tidak mencari kesempurnaan kita. Dia tidak menuntut hasil yang sempurna, melainkan ketulusan hati kita untuk mendekat kepada-Nya. “Anak-anak,” kata guru  “Tuhan ingin kita menerima diri kita sendiri apa adanya karena Dia sudah menerima kita sejak awal.” Lesly teringat dengan perkataan Rafael kemarin, dan mulai merasakan bahwa dirinya memang berharga di mata Tuhan, tak peduli seperti apa pencapaiannya.

Dengan semangat baru, Lesly berusaha lebih tenang dalam menghadapi setiap tugas di sekolah. Ia belajar untuk menerima dirinya sendiri dan yakin bahwa Tuhan selalu bersamanya, bahkan dalam kesulitan dan kegagalannya. Ia juga mulai lebih ramah terhadap teman-temannya yang sedang menghadapi masalah, karena ia sadar, setiap orang punya kelemahan yang butuh diterima.

Akhirnya, Lesly pun menyadari bahwa Tuhan menyambut kita apa adanya, bukan karena pencapaian atau prestasi, tetapi karena kasih-Nya yang tak terbatas. Dalam setiap doa malamnya, Lesly merasa lebih damai karena tahu bahwa dirinya selalu diterima dan dicintai. Tuhan memang telah memanggil kita untuk datang kepada-Nya dengan penuh ketulusan hati, siap menerima kita dalam kondisi apa pun dan menuntun kita menuju kebaikan.

"Dalam kasih-Nya, Tuhan selalu membuka tangan, menerima dan menguatkan kita di setiap langkah, termasuk saat kita gagal."

Refleksi:

  1. Mengapa Lesly merasa cemas dan sedih ketika menerima hasil ulangannya?
  2. Apa yang dikatakan Rafael kepada Lesly untuk menguatkannya dalam menghadapi kegagalan?
  3. Pernahkah kamu merasa tidak diterima atau kecewa atas usaha yang sudah kamu lakukan? Bagaimana kamu mengatasi perasaan tersebut?