Doa adalah Sumber Kekuatan Sejati
Pada
suatu pagi yang cerah, lonceng berdenting kencang memanggil para murid menuju halaman
sekolah, tempat doa pagi biasa diadakan. Di antara mereka, Efani, seorang siswi
kelas X, merasa gelisah. Hari itu, ia akan mempersembahkan presentasi besar,
namun ia merasa belum siap sepenuhnya. Ketika doa pagi dipimpin salah seorang temannya,
pikiran Efani terus dipenuhi kekhawatiran tanpa fokus.
Ketika
istirahat, Efani duduk termenung sendirian di taman sekolah. "Mengapa aku
merasa seperti ini? Aku telah belajar keras, tetapi rasa takut masih saja ada,"
katanya dalam hati. Tiba-tiba, Pak Andre, guru agama yang kebetulan melihatnya
mendekat. “Efani, kamu terlihat cemas. Ada apa?” tanyanya lembut. Efani pun
menceritakan kegelisahannya. Mendengar cerita Efani, Pak Andre tersenyum lalu
berkata, “Ada kisah dalam Injil Lukas, 8:1-8 tentang seorang janda yang tak
pernah putus asa memohon keadilan kepada seorang hakim. Akhirnya, sang hakim
mengabulkan permintaannya karena ketekunannya. Yesus mengajarkan agar kita tak
pernah berhenti berdoa, tak peduli seberapa sulit situasinya.”
Efani
mulai memahami pesan tersebut. Ia teringat kata-kata Santa Theresia dari
Lisieux, "Doa adalah gerak hati; itu adalah pandangan sederhana ke surga,
seruan syukur dan cinta di tengah cobaan maupun suka cita." Kata-kata itu
menguatkan Efani untuk selalu berdoa dengan tulus, menitipkan segala keluh kesahnya
kepada Tuhan. Setelah berbincang dengan Pak Andre, Efani memutuskan berdoa di
kapel sekolah. Ia memohon kekuatan dan kedamaian untuk menjalani presentasinya.
Ketika
saat presentasi tiba, Efani merasa ada kekuatan baru di dalam dirinya. Ia
berdiri di depan kelas dengan penuh keyakinan, berbicara lancar, dan
menyampaikan materi dengan baik. Setelah selesai, teman-teman dan gurunya
memberikan tepuk tangan meriah. Efani tersenyum lega, menyadari bahwa doa bukan
sekadar memohon, tetapi juga mempercayakan segala sesuatu kepada Tuhan.
Dari
pengalaman Efani, kita dapat belajar bahwa doa adalah sumber kekuatan sejati.
Di tengah kesibukan atau tekanan hidup, doa mengingatkan kita untuk senantiasa
bergantung kepada Tuhan. Seperti janda dalam Injil Lukas, mari kita terus
berdoa dengan keyakinan bahwa Tuhan mendengar dan mengabulkan setiap permohonan
sesuai waktunya. Seperti Santa Theresia, biarkan doa menjadi jembatan cinta
kita kepada Tuhan di setiap situasi.
"Saat hati gelisah, hentikan
sejenak dan berdoa. Tuhan adalah sumber kedamaian dan keberanianmu."
Refleksi:
- Apa
yang membuat Efani merasa gelisah pada pagi hari saat doa pagi diadakan di
sekolah?
- Apa
pesan yang disampaikan Pak Andre kepada Efani melalui kisah dalam Injil
Lukas 8:1-8?
- Bagaimana
Efani menghadapi kegelisahannya sebelum presentasi, dan apa hasil akhirnya?
- Bagaimana
peran doa dalam hidupmu selama ini? Apakah kamu merasa doa memberikan
kekuatan dan kedamaian seperti yang dialami Efani?




