Berani Meminta Bantuan: Cerita Laurencia dan Pesan dari Bartimeus
Di sebuah sekolah Katolik yang
ramai oleh tawa dan antusiasme, tinggallah seorang murid bernama Laurencia. Laurencia
adalah siswi kelas X yang ceria dan pandai, namun belakangan ini dia tampak
menyendiri. Temannya tidak mengetahui bahwa Laurencia sedang menghadapi
kesulitan besar dalam memahami pelajaran kimia. Ujian akhir semakin dekat,
tetapi Laurencia merasa malu untuk mengakui bahwa dia membutuhkan bantuan.
“Bagaimana jika mereka menganggapku bodoh?” pikirnya.
Pada suatu hari, dalam
pembelajaran agama, Pak Andre guru agamanya menceritakan kisah Bartimeus,
seorang pengemis buta yang duduk di pinggir jalan di Yerikho (Lukas 18: 35-43).
Saat Bartimeus mendengar bahwa Yesus lewat, dia berseru keras, “Yesus, Anak
Daud, kasihanilah aku!” Orang-orang di sekitarnya berusaha membuatnya diam,
tetapi Bartimeus tidak menyerah. Dia terus berteriak hingga Yesus mendengarnya
dan memanggilnya. Yesus bertanya, “Apa yang kamu inginkan Aku lakukan untukmu?”
Bartimeus menjawab dengan iman yang kuat, “Tuhan, supaya aku bisa melihat.” Dan
mukjizat terjadi—Bartimeus memperoleh penglihatannya kembali karena dia berani
meminta bantuan dan percaya.
Cerita itu menyentuh hati Laurencia.
Dia merenungkan bagaimana Bartimeus tidak takut untuk berteriak meskipun orang
lain menghakiminya. Laurencia teringat pada kata-kata Santa Theresia dari Ávila:
“Jangan takut untuk memohon kepada Tuhan, karena Dia lebih ingin memberimu
rahmat daripada kamu menginginkannya.” Kalimat itu menguatkan Laurencia. Tuhan ingin membantunya, dan begitu
pula orang-orang yang dipercayakan-Nya di sekitarnya.
Keesokan harinya, dengan hati
yang masih ragu namun penuh ketabahan, Laurencia mendekati gurunya di pelajaran
kimia. “Bu, saya kesulitan memahami pelajaran ini. Bisakah saya mendapat
bimbingan tambahan?” katanya. Sang guru tersenyum ramah dan berkata, “Tentu
saja, Laurencia! Saya senang kamu bersedia berbicara.” Dalam waktu singkat, Laurencia
mulai memahami konsep yang sulit, dan rasa percaya dirinya perlahan pulih
kembali. Dia pun merasa damai karena tidak lagi menanggung beban sendirian.
Kisah Laurencia dan Bartimeus
mengajarkan kita bahwa meminta bantuan bukanlah tanda kelemahan, melainkan
keberanian. Ketika kita berani menyerahkan masalah kita kepada Tuhan dan kepada
orang-orang yang dipercayakan-Nya di sekitar kita, kita membuka pintu untuk
keajaiban. Seperti kata Santo Yohanes Paulus II, “Jangan takut. Buka hati
kalian untuk Kristus.” Marilah kita berani berteriak, seperti Bartimeus, untuk
mencari cahaya di tengah kegelapan. Dengan iman, Tuhan akan senantiasa
menyediakan jalan.
"Tuhan telah
menempatkan orang-orang di sekitarmu untuk menjadi saluran kasih-Nya. Jangan
ragu meminta dukungan mereka."
Refleksi:
- Mengapa Laurencia merasa ragu untuk meminta bantuan
dalam menghadapi kesulitannya belajar kimia?
- Apa yang dilakukan Bartimeus ketika dia mendengar
bahwa Yesus sedang lewat di dekatnya?
- Bagaimana akhirnya Laurencia mendapatkan keberanian
untuk meminta bantuan kepada gurunya?
- Dalam hidup Anda, siapa saja yang menurut Anda telah
Tuhan percayakan untuk membantu Anda saat mengalami kesulitan? Bagaimana
Anda dapat lebih terbuka kepada mereka?




