Menggunakan Bakat dengan Bijak

Menggunakan Bakat dengan Bijak

Di sebuah sekolah Katolik yang asri, ada seorang murid bernama Fransisca. Fransisca adalah anak yang ceria, handal menyanyi, dan selalu ingin berbagi kegembiraan bersama teman-temannya. Namun, di lubuk hatinya, Fransisca merasa ragu untuk bernyanyi di depan umum. "Bagaimana jika mereka mentertawakan saya?" pikir Fransisca setiap kali ia diminta tampil di misa sekolah.

Pada suatu hari, di kelas pelajaran agama, guru Fransisca menceritakan kisah dari Injil Lukas 19:11-28 tentang para hamba yang diberi kesempatan oleh tuannya berdagang. "Hamba yang setia itu memanfaatkan bakat yang dipercayakan kepadanya dan mendapat ganjaran lebih besar," ujar gurunya. Kemudian ia melanjutkan, "Setiap kita dianugerahi kemampuan, dan Tuhan menghendaki kita mempergunakannya untuk kebaikan bersama, bukan untuk disembunyikan."

Kata-kata itu terus terngiang di benak Fransisca. Ia juga teringat cerita tentang Santo Dominikus Savio, seorang remaja yang hidup dengan semangat melayani Tuhan melalui bakat sederhana yang ia miliki. Santo Dominikus pernah berkata, "Lebih baik mati daripada berbuat dosa." Bagi Fransisca, itu berarti ia harus berani bertindak benar, termasuk memanfaatkan bakat yang Tuhan berikan untuk memuliakan Tuhan.

Akhirnya, ketika misa Jumat pertama tiba, Fransisca memberanikan diri untuk bernyanyi sebagai solis. Dengan gemetar, ia naik ke mimbar dan mulai menyanyikan nyanyian mazmur tanggapan. Suara Fransisca jernih, dan semua siswa terdiam, merasakan kedamaian yang mengalir dari nyanyiannya. Setelah misa, banyak teman dan gurunya memuji keberanian Fransisca. "Terima kasih, Fransisca. Nyanyianmu menyejukkan dan menguatkan iman kami," kata salah seorang temannya.

Fransisca menyadari bahwa bakat adalah karunia Tuhan yang harus dipergunakan, bukan disembunyikan. Sejak hari itu, ia tak pernah lagi ragu untuk bernyanyi. Ia percaya, seperti yang tertulis dalam Injil, bahwa siapa yang setia dalam perkara kecil akan dipercayakan perkara besar. Bakat kita adalah sarana untuk melayani sesama dan memuliakan Tuhan. Maka, seperti Fransisca, mari kita gunakan bakat kita dengan bijak dan penuh syukur.

"Tuhan menciptakanmu dengan bakat yang  unik. Gunakanlah dengan bijaksana, karena bakatmu bisa menjadi berkat bagi dunia."

Refleksi:

  1. Apa alasan Fransisca merasa ragu untuk bernyanyi di depan umum meskipun ia memiliki bakat menyanyi yang baik?
  2. Kisah dari Injil apa yang diceritakan oleh guru Fransisca, dan apa pesan utama dari kisah tersebut?
  3. Apa yang membuat Fransisca akhirnya memutuskan untuk bernyanyi sebagai solis saat misa Jumat pertama?
  4. Pernahkah kamu merasa takut menunjukkan kelebihanmu? Bagaimana caramu mengatasi rasa takut tersebut?