Hati Kita adalah Bait Tuhan
Di pagi yang cerah, Sesilia siswi
kelas X menginjakkan kaki memasuki kelas dengan raut wajah muram. Teman-teman
sekelasnya langsung menyadari perubahan sikapnya dan bertanya dengan khawatir,
"Ada apa denganmu, Sesilia?" Dengan suara parau, Sesilia menjawab,
"Aku bertengkar hebat dengan sahabatku tadi pagi. Hati ini penuh dengan
amarah." Tepat pada saat itu, Bu Bernadeth yang menjabat sebagai wali
kelas datang memasuki ruang belajar seraya memulai pelajaran dengan sebuah
afirmasi berisi wejangan dari Injil
Lukas 19:45-48, mengenai Yesus yang mengusir para pedagang dari Bait Suci.
"Rumah-Ku adalah rumah doa,
tetapi kalian telah menjadikannya sarang penyamun!" kata Yesus dalam kisah
tersebut. Bu Bernadeth menjelaskan lebih lanjut, "Cerita ini tidak hanya
berlatar gedung suci, anak-anak. Kita diajak merenungkan bahwa hati kita adalah
Bait Suci, tempat Roh Kudus bersemayam. Namun terkadang kita mengisi hati ini
dengan amarah, dengki, atau dendam. Apa yang dilakukan Yesus terhadap Bait
Suci, itulah yang Dia inginkan terhadap hati kita: membersihkannya dari segala
macam noda."
Setelah mendengarkan kisah
afirmasi tersebut, Sesilia mengangkat tangan, "Bu, apakah aku boleh
meminta maaf pada sahabatku dan membersihkan hatiku seperti yang diajarkan
Yesus?" Bu Bernadeth tersenyum lembut, "Tentu saja, Sesilia. Yesus
senantiasa memberi kesempatan kepada kita untuk memperbaiki diri. Ingatlah
pesan Santo Fransiskus dari Assisi: 'Mulailah dengan melakukan apa yang wajib;
kemudian lakukan apa yang mungkin; dan tiba-tiba kamu akan bisa melakukan yang
mustahil.' Meminta maaf adalah langkah awalmu untuk membersihkan hati dari segala
pengaruh negatif seperti kebencian dan amarah."
Setelah pulang sekolah, Sesilia
menemui sahabatnya untuk meminta maaf. Perasaan lega menyelimuti hatinya.
"Bu, kemarin aku sudah minta maaf pada sahabatku," cerita Sesilia
esok harinya. "Sekarang hatiku terasa damai." Teman-teman sekelas
terinspirasi oleh tindakan mulia Sesilia, dan Bu Bernadeth menutup pelajaran
dengan mengingatkan, "Marilah kita menjaga hati agar tetap bersih. Dengan
begitu, kita tidak saja akan menjadi pribadi yang lebih baik, tetapi juga dapat
membawa ketenteraman bagi orang lain."
Melalui pengalaman sederhana itu,
para siswa belajar bahwa hati mereka adalah bait suci tempat Tuhan bersemayam.
Sebagaimana Yesus membersihkan Bait Suci, mereka pun diajak untuk senantiasa membersihkan
hati dari segala pengaruh negatif dan membiarkan kasih Tuhan menyinari
kehidupan mereka. Dengan menjalani iman dalam tindakan sehari-hari, mereka
membuktikan bahwa setiap hati manusia adalah Bait Tuhan yang hidup.
"Hati kita
adalah Bait Tuhan yang hidup. Seperti Yesus yang membersihkan Bait Suci,
kita diajak untuk membersihkan hati dari
amarah, dengki, dan dosa. Jadikanlah hati sebagai tempat kasih Tuhan
bersemayam, penuh damai dan sukacita. Setiap langkah kecil menuju kebaikan,
seperti meminta maaf atau memaafkan, adalah bukti iman kita dalam tindakan.
Ingatlah, dengan hati yang bersih, kita tidak hanya menjadi pribadi yang lebih
baik, tetapi juga membawa terang dan damai sejahtera bagi dunia di sekitar
kita."
Refleksi:
- Apa yang menyebabkan Sesilia merasa muram saat
memasuki kelas pada pagi itu?
- Apa pesan utama dari cerita afirmasi yang disampaikan
oleh Bu Bernadeth terkait dengan Injil Lukas 19:45-48?
- Apa tindakan yang dilakukan Sesilia setelah
mendengarkan wejangan Bu Bernadeth, dan bagaimana hasilnya?
- Pernahkah kamu merasa seperti Sesilia, di mana hati
dipenuhi amarah atau dendam? Bagaimana cara kamu mencoba membersihkannya?




