Keikhlasan dalam Memberi Lebih Berharga
Suasana kelas terasa hangat saat
Ibu Natalia, wali kelas yang juga dikenal sebagai guru yang penuh kasih sayang,
meminta siswa-siswi untuk berbagi pengalaman mereka tentang memberi. Di sudut
ruangan, Yoel, seorang siswa yang pemalu tapi penuh hati, mengangkat tangannya
dengan perlahan. "Ibu, saya ingin bercerita tentang sesuatu yang terjadi
minggu lalu," ujarnya. "Saat itu dompet saya hanya berisi Rp10.000.
Di depan gereja, saya melihat seorang pria tua duduk dengan gelas kosong di
sampingnya. Entah mengapa, saya merasa harus memberikan uang saya padanya,
meskipun artinya saya tidak akan mempunyai uang untuk membeli makan
siang."
Ketika Yoel selesai bercerita,
seisi kelas terdiam mendengarkan. Ibu Natalia tersenyum lembut sambil berkata,
"Cerita Yoel mengingatkan kita pada kisah di Injil Lukas 21:1-4, dimana
Yesus melihat seorang janda miskin memberikan dua keping uang ke dalam kotak
persembahan. Yesus mengatakan bahwa janda itu memberi lebih banyak daripada semua
orang itu, karena ia memberi dari kekurangannya dan bukan dari
kelebihannya." Mendengar penjelasan Ibu Natalia, suasana kelas berubah
menjadi lebih hening.
Kemudian, Stella, seorang siswi
aktif yang sering terlibat dalam kegiatan sekolah, menimpali, "Ibu,
baru-baru ini saya membaca kata-kata Santa Theresia dari Kalkuta, 'Bukan
seberapa banyak yang kita berikan, tetapi seberapa besar kasih yang kita
berikan dalam setiap pemberian itu.' Saya pikir, seperti Yoel, yang terpenting
bukan nilai materi yang diberikan tetapi motivasi dan keikhlasan hati saat
memberinya." Ucapan Stella membuat teman-temannya semakin merenungi arti
sejati dari memberi.
Ibu Natalia kemudian menjelaskan
bahwa keikhlasan adalah cahaya kecil di tengah kegelapan. Apabila seseorang
memberi dengan tulus ikhlas, Tuhan tidak melihat berapa besar pemberian itu
melainkan sejauh mana orang tersebut rela melepaskan dan menyerahkan segalanya
kepada-Nya. "Kisah keikhlasan Yoel meskipun hanya dengan Rp10.000 telah
mengajarkan kita bahwa yang terpenting dalam memberi adalah keikhlasan dan niat
hati," tutup Ibu Natalia dengan senyuman penuh kasih sayang.
Pelajaran berakhir dengan Ibu Natalia
meminta siswa berkomitmen untuk mempraktikkan keikhlasan dalam kehidupan
sehari-hari, bukan hanya dalam memberi secara materi tetapi juga perhatian,
waktu, dan doa. Dalam diam, mereka pun bertekad untuk mencontoh janda miskin,
Santa Theresia, dan kisah Yoel dengan penuh kasih dan ikhlas. Karena dengan
kasih, keikhlasanlah yang membuat pemberian kecil menjadi berharga di mata
Tuhan.
"Tidak perlu
menunggu memiliki banyak, untuk dapat berbagi sedikit. Terkadang dari
kekuranganlah mukjizat terjadi."
Refleksi:
- Apa yang mendorong Yoel untuk memberikan uang
terakhirnya kepada pria tua di depan gereja, meskipun ia tahu ia tidak
akan bisa membeli makan siang?
- Bagaimana Ibu Natalia menghubungkan cerita Yoel
dengan kisah janda miskin dalam Injil Lukas 21:1-4?
- Apa yang diungkapkan Stella tentang pemberian, dan
bagaimana hal itu terkait dengan kutipan dari Santa Theresia dari Kalkuta?
- Dalam kehidupan sehari-hari, apakah Anda pernah
menghadapi situasi di mana Anda harus memberi sesuatu dari kekurangan
Anda? Bagaimana perasaan Anda setelah melakukannya?




