Menyadari Hadirnya Tuhan
Pada suatu hari di sekolah, Alexa
merasa cemas. Soal ujian matematika yang sudah dikerjakannya ternyata masih
jauh dari harapan. Dia melihat teman-temannya penuh percaya diri, namun dirinya
merasa hampa dan putus asa. Alexa merasa seolah Tuhan jauh darinya, tanpa
harapan adanya pertolongan. Akan tetapi, saat istirahat, Alexa mendengar gurunya
bercerita tentang pengalaman hidupnya. Beliau menceritakan bagaimana melewati
masa sulit dengan berdoa dan berserah diri kepada Tuhan.
Bacaan kitab suci hari itu, dari
Injil Matius 17:10-13, menceritakan pertanyaan murid-murid Yesus mengenai
kenapa nabi Elia harus datang terlebih dahulu sebelum Mesias. Yesus menjelaskan
bahwa Elia telah hadir dalam sosok Yohanes Pembaptis, meski tak dikenali. Pesan
Alkitab mengajarkan kita seringkali kita tak menyadari kehadiran Tuhan dalam
hidup sehari-hari, bahkan saat Dia dekat dengan kita. Kita terlalu sibuk dengan
kekhawatiran dan kesibukan duniawi, lalai menyadari kehadiran Tuhan yang
senantiasa menyertai kita.
Seperti Alexa yang terpuruk,
banyak dari kita merasa jauh dari Tuhan ketika mengalami kesulitan. Namun
sebagaimana ajaran Santo Yohanes dari Salib yang kita kenang setiap 14
Desember, Tuhan kerap hadir dalam cara-cara sederhana dan tak kasat mata. Santo
Yohanes mengajarkan kehadiran Tuhan dapat dirasakan dalam kesunyian hati dan
pengalaman sehari-hari. Saat menghadapi rintangan atau duka, Dia tak pernah
meninggalkan kita; justru memberi kekuatan dan kedamaian dalam hati yang terbuka
mendengar-Nya.
Pada suatu hari, Alexa mulai
berdoa dengan tulus. Ia merasakan perubahan dalam dirinya. Walaupun hasil
ujiannya tak berubah, namun hatinya kini tenang dan yakin akan kehadiran Tuhan
yang senantiasa membimbingnya. Ia menyadari bahwa Tuhan senantiasa hadir, baik
dalam suka maupun duka, bahagia maupun malang. Kehadiran-Nya bukan hanya dalam
peristiwa besar, melainkan juga dalam hal-hal kecil yang kerap terlewatkan.
Kehadiran Tuhan tak selalu nyata
dalam cara spektakuler, melainkan seringkali dalam kesunyian hati. Sebagai
siswa, kita diajak menyadari kehadiran-Nya dalam setiap langkah, dalam
interaksi, semangat belajar, dan ketulusan melayani di gereja. Seperti Alexa
yang mulai menyadari kehadiran Tuhan, kita pun diajak untuk terus mencari dan
merasakan kehadiran-Nya di setiap detik kehidupan. Tuhan dekat, hadir dalam
setiap langkah meski dalam kesederhanaan hidup sehari-hari.
"Kehadiran Tuhan
tak selalu spektakuler, namun selalu ada dalam setiap detik yang dijalani
dengan hati terbuka."
Refleksi:
- Apa yang membuat Alexa merasa cemas dan putus asa
pada awal cerita?
- Bagaimana guru Alexa membantu mengubah perspektifnya
tentang kehadiran Tuhan?
- Apa yang dijelaskan oleh Yesus dalam Injil Matius
17:10-13 tentang kenapa nabi Elia harus datang terlebih dahulu sebelum
Mesias?
- Pernahkah Anda merasa seperti Alexa, merasa jauh dari
Tuhan dalam situasi sulit? Bagaimana Anda menghadapinya?




